BAB
I
Pendahuluan
a.Latar
Belakang
Perubahan
harga adalah proses peningkatan atau penurunan harga yang biasanya terjadi pada
saat-saat tertentu secara bertahap maupun tidak.
Perubahan harga terjadi karena adanya peningkatan dari bahan baku suatu produk tersebut agar tetap mendapatkan suatu keuntungan dari hasil penjualan.
Perubahan harga tidak hanya menguntungkan para produsen, kadang perubahan harga berupa penurunan membuat pihak konsumen merasa untung.
Sering kali terjadi Perubahan-perubahan harga di pasar. Terutama pada saat-saat tertentu seperti Hari Raya ataupun Tahun baru. Kejadian seperti banyak sekali dimanfaatkan oleh konsumen akan untuk mendapatkan keuntungan, dan kadang banyak merugikan pula. Perubahan harga yang terjadi tiap tahun ini membuat para konsumen menjaga-jaga membeli, barang-barang yang kemungkinan akan melonjak, sebelum harganya berubah menjadi jauh lebih mahal.
Perubahan harga terjadi karena adanya peningkatan dari bahan baku suatu produk tersebut agar tetap mendapatkan suatu keuntungan dari hasil penjualan.
Perubahan harga tidak hanya menguntungkan para produsen, kadang perubahan harga berupa penurunan membuat pihak konsumen merasa untung.
Sering kali terjadi Perubahan-perubahan harga di pasar. Terutama pada saat-saat tertentu seperti Hari Raya ataupun Tahun baru. Kejadian seperti banyak sekali dimanfaatkan oleh konsumen akan untuk mendapatkan keuntungan, dan kadang banyak merugikan pula. Perubahan harga yang terjadi tiap tahun ini membuat para konsumen menjaga-jaga membeli, barang-barang yang kemungkinan akan melonjak, sebelum harganya berubah menjadi jauh lebih mahal.
Perubahan
harga ini terdiri dari banyak faktor. Kualitas, kuantitas, selera konsumen,
trend masa kini dan banyak lagi.
Jika kualitas barang sudah turun (jahitan lepas,warna pudar,robek) otomatis konsumen tidak akan membeli barang tersebut dengan harga normal. Jika jumlah barang (kuantitas) yang beredar dimasyarakat banyak, otomatis harga di pasar pasti akan bersaing paling murah agar konsumen mau membeli. Selera konsumen berbeda-beda, ada yang menyukai warna merah, kuning atau yang lainnya, ini membuat konsumen memilih warna atau selera mereka masing-masing, tidak peduli mahal atau murahnya.
Jika kualitas barang sudah turun (jahitan lepas,warna pudar,robek) otomatis konsumen tidak akan membeli barang tersebut dengan harga normal. Jika jumlah barang (kuantitas) yang beredar dimasyarakat banyak, otomatis harga di pasar pasti akan bersaing paling murah agar konsumen mau membeli. Selera konsumen berbeda-beda, ada yang menyukai warna merah, kuning atau yang lainnya, ini membuat konsumen memilih warna atau selera mereka masing-masing, tidak peduli mahal atau murahnya.
Maka dari
itu, penulis akan meneliti lebih jauh agar kita bisa melihat apa untung dan
ruginya perubahan harga tersebut dari segi konsumen maupun produsen.
b. Rumusan
Masalah
1. Mengapa BBM mengalami peningkatan harga?
2. Apakah kenaikan BBM merata di seluruh Indonesia?
3. Apakah kenaikan BBM dapat dipastikan tiap tahun?
4. Mungkinkah BBM mengalami penurunan harga kembali seperti semula?
5. Apa akibat dari kenaikan BBM?
6. Apakah subsidi BBM harus dihapuskan? Mengapa?
7. Faktor-faktor apa yang menyebabkan harga BBM meningkat?
2. Apakah kenaikan BBM merata di seluruh Indonesia?
3. Apakah kenaikan BBM dapat dipastikan tiap tahun?
4. Mungkinkah BBM mengalami penurunan harga kembali seperti semula?
5. Apa akibat dari kenaikan BBM?
6. Apakah subsidi BBM harus dihapuskan? Mengapa?
7. Faktor-faktor apa yang menyebabkan harga BBM meningkat?
c. Tujuan
Penulisan
Penulis menulis
makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas Metode Penulisan karya Ilmiah. Makalah
ini bertujuan menjelaskan mengenai kenaikan BBM yang selalu dibicarakan pada
masyarakat kita, Indonesia. Selain itu penyusunan ini
juga untuk membuka jendela pengetahuan tentang permasalahan yang ada saat ini.
Harapan penulis adalah agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi dirinya
sendiri, akan tetapi bermanfaat juga bagi meraka yang membutuhkan untuk
referensi ataupun bahan bacaan semata
LITERATUR
- Faktor – faktor kenaikan harga :
• Naiknya harga minyak mentah dunia
• Naiknya nilai mata uang dollar
• Peradaban manusia yang semakin canggih dalam memproses minyak mentah
• Teknologi
• Naiknya harga minyak mentah dunia
• Naiknya nilai mata uang dollar
• Peradaban manusia yang semakin canggih dalam memproses minyak mentah
• Teknologi
- Akibat Naiknya BBM :
• Harga bahan baku meningkat
• Harga produk barang meningkat
• Masyarakat sukar memenuhi kebutuhan hidup
• Pengangguran meningkat
• Kemiskinan
• Harga bahan baku meningkat
• Harga produk barang meningkat
• Masyarakat sukar memenuhi kebutuhan hidup
• Pengangguran meningkat
• Kemiskinan
BAB II
Globalisasi dan
Indonesia 2030
A. Hasil Dan Pembahasan
Abad ke-21
adalah abad milik Asia. Pada tahun 2050 separuh lebih produk nasional bruto
dunia bakal dikuasai Asia. China, menggusur Amerika Serikat, akan menjadi
pemain terkuat dunia, diikuti India di posisi ketiga. Lalu, apa peran dan di
mana posisi Indonesia waktu itu?
China dan India
dengan segala ekspansinya, berdasarkan sejumlah parameter saat ini dan prediksi
ke depan, sudah jelas adalah pemenang dalam medan pertarungan terbuka dunia di
era globalisasi, di mana tidak ada lagi sekat-sekat bukan saja bagi pergerakan
informasi, modal, barang, jasa, manusia, tetapi juga ideologi dan nasionalisme
negara.
Globalisasi
ekonomi dan globalisasi korporasi juga memunculkan barisan korporasi dan
individu pemain global baru. Lima tahun lalu, 51 dari 100 kekuatan ekonomi
terbesar sudah bukan lagi ada di tangan negara atau teritori, tetapi di tangan
korporasi.
Pendapatan
WalMart, jaringan perusahaan ritel AS, pada tahun 2001 sudah melampaui produk
domestik bruto (PDB) Indonesia sebagai negara. Penerimaan perusahaan minyak
Royal Dutch Shell melampaui PDB Venezuela, salah satu anggota Organisasi
Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berpengaruh.
Pendapatan
perusahaan mobil nomor satu dunia dari AS, General Motor, kira-kira sama dengan
kombinasi PDB tiga negara: Selandia Baru, Irlandia, dan Hongaria. Perusahaan
transnasional (TNCs) terbesar dunia, General Electric, menguasai aset 647,483
miliar dollar AS atau hampir tiga kali lipat PDB Indonesia.
Begitu besar
kekuatan uang dan pengaruh yang dimiliki korporasi-korporasi ini sehingga mampu
mengendalikan pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan dan menentukan arah
pergerakan perdagangan dan perekonomian global.
Pada awal dekade
1990-an terdapat 37.000 TNCs dengan sekitar 170.000 perusahaan afiliasi yang
tersebar di seluruh dunia. Tahun 2004 jumlah TNCs meningkat menjadi sekitar
70.000 dengan total afiliasi 690.000. Sekitar 75 persen TNCs ini berbasis di
Amerika Utara, Eropa Barat, serta Jepang, dan 99 dari 100 TNCs terbesar juga
dari negara maju.
Namun,
belakangan pemain kelas dunia dari negara berkembang, terutama Asia, mulai
menyembul di sana-sini. Dalam daftar 100 TNCs nonfinansial terbesar dunia (dari
sisi aset) versi World Investment Report 2005, ada nama seperti Hutchison
Whampoa Limited (urutan 16) dari Hongkong, Singtel Ltd (66) dari Singapura,
Petronas (72) dari Malaysia, dan Samsung (99) dari Korea Selatan.
Sementara dalam daftar 50 TNCs
finansial terbesar dunia, ada tiga wakil dari China, yakni Industrial &
Commercial Bank of China (urutan 23), Bank of China (34), dan China
Construction Bank (39).
Lompatan besar
Menurut data United Nations
Conference on Trade and Development, pada tahun 2004 China adalah eksportir
terbesar ketiga di dunia untuk barang (merchandise goods) dan kesembilan
terbesar untuk jasa komersial, dengan pangsa 9 dan 2,8 persen dari total ekspor
dunia.
Volume ekspor China mencapai 325
miliar dollar AS tahun 2002 dan tahun lalu 764 miliar dollar AS. Manufaktur
menyumbang 39 persen PDB China. Output manufaktur China tahun 2003 adalah
ketiga terbesar setelah AS dan Jepang. Di sektor jasa, China yang terbesar
kesembilan setelah AS, Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Kanada, dan
Spanyol.
Sementara India
peringkat ke-20 eksportir merchandise goods (1,1 persen) dan peringkat ke-22
untuk jasa komersial (1,5 persen). Produk nasional bruto (GNP) China tahun 2050
diperkirakan 175 persen dari GNP AS, sementara GNP India sudah akan menyamai AS
dan menjadikannya perekonomian terbesar ketiga dunia, mengalahkan Uni Eropa dan
Jepang.
Ketika China
membuka diri pada dunia dua dekade lalu, orang hanya membayangkan potensi China
sebagai pasar raksasa dengan lebih dari semiliar konsumen sehingga sangat
menarik bagi perusahaan ritel dan manufaktur dunia. Belakangan, China bukan
hanya menarik dan berkembang sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi
berbagai produk manufaktur untuk memasok pasar global. China awal abad ke-21
ini seperti Inggris abad ke-19 lalu.
China tidak
berhenti hanya sampai di sini. Jika pada awal 1990-an hanya dipandang sebagai
lokasi menarik untuk basis produksi produk padat karya sederhana, dewasa ini
China membuktikan juga kompetitif dalam berbagai industri berteknologi maju.
Masuknya China dalam keanggotaan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin
melapangkan jalan bagi negeri Tirai Bambu ini untuk menjadi kekuatan yang
semakin sulit ditandingi di pasar global.
Di sektor padat
karya, seperti tekstil dan pakaian jadi, diakhirinya rezim kuota di
negara-negara maju membuat ekspor China membanjiri pasar dunia dan membuat
banyak industri tekstil dan pakaian jadi di sejumlah negara berkembang pesaing
harus tutup. Pangsa ekspor pakaian dari China diperkirakan akan melonjak dari
sekitar 17 persen dari total ekspor dunia saat ini menjadi 45 persen pada paruh
kedua dekade ini.
Hal serupa
terjadi pada produk-produk berteknologi tinggi. Bagaimana China menginvasi dan
membanjiri pasar global dengan produk-produknya, dengan menggusur negara-negara
pesaing, bisa dilihat dari data WTO berikut.
Pangsa China di
pasar elektronik AS meningkat dari 9,5 persen (tahun 1992) menjadi 21,8 persen
(1999). Sementara pada saat yang sama, pangsa Singapura turun dari 21,8 persen
menjadi 13,4 persen. Kontribusi China terhadap produksi personal computer dunia
naik dari 4 persen (1996) menjadi 21 persen (2000), sementara kontribusi ASEAN
secara keseluruhan pada kurun waktu yang sama menciut dari 17 persen menjadi 6
persen.
Pangsa China
terhadap total produksi hard disk dunia juga naik dari 1 persen (1996) menjadi
6 persen (2000), sementara pangsa ASEAN turun dari 83 persen menjadi 77 persen.
Pangsa China untuk produksi keyboard naik dari 18 persen (1996) menjadi 38
persen (2000), sementara pangsa ASEAN tergerus dari 57 persen menjadi 42
persen.
Semua gambaran
itu jelas memperlihatkan China terus naik kelas, membuat lompatan besar dari
waktu ke waktu, dan pada saat yang sama terus memperluas diversifikasi produk
dan pasarnya. Gerakan sapu bersih China di berbagai macam industri—mulai dari
yang berintensitas teknologi sangat sederhana hingga intensitas teknologi dan
nilai tambah sangat tinggi—ini semakin mempertegas posisi China sebagai the
world’s factory memasuki abad ke-21.
Sementara pada
saat yang sama, negara-negara tetangganya justru mengalami hollowing out di
industri manufaktur berteknologi tinggi dengan cepat. Di industri berintensitas
teknologi rendah yang cenderung padat karya, China menekan negara-negara
seperti Vietnam dan Indonesia yang basis industrinya masih sempit, yakni
teknologi yang tidak terlalu complicated dan bernilai tambah rendah.
Sementara di
industri yang berintensitas teknologi tinggi, China semakin menjadi ancaman
tidak saja bagi negara seperti Taiwan dan Korsel, tetapi juga AS dan Jepang.
China tidak hanya membanjiri dunia dengan garmen, sepatu, dan mainan, tetapi
juga produk-produk komputer, kamera, televisi, dan sebagainya.
China memasok 50
persen lebih produksi kamera dunia, 30 persen penyejuk udara (air
conditioners/AC), 30 persen televisi, 25 persen mesin cuci, 20 persen lemari
pendingin, dan masih banyak lagi.
Inovasi
Bagaimana China
bisa melakukan itu semua? Ada beberapa faktor. Pertama, perusahaan-perusahaan
teknologi asing, menurut Deloitte Research, sekarang ini berebut masuk untuk
investasi di China, antara lain agar bisa memanfaatkan akses ke pasar China
yang sangat besar dan bertumbuh dengan cepat. Kedua, perusahaan-perusahaan
lokal yang menarik modal dari investor China di luar negeri (terutama Taiwan)
juga semakin terampil memproduksi barang-barang berteknologi tinggi.
Tidak statis di
industri padat karya yang mengandalkan upah buruh murah, China kini mulai lebih
selektif menggiring investasi ke industri yang menghasilkan high end products
dan padat modal. Ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga
kerja murah yang mulai berkurang ketersediaannya.
Ketiga,
perguruan-perguruan tinggi di China mampu mencetak barisan insinyur baru dalam
jumlah besar setiap tahunnya, dengan upah yang tentu relatif murah dibandingkan
jika menyewa insinyur asing. Setiap tahun, negara ini menghasilkan 2 juta-2,5
juta sarjana, dengan 60 persennya dari jurusan teknologi (insinyur). Sebagai
perbandingan, di Indonesia lulusan jurusan teknologi hanya 18 persen, AS 25
persen, dan India 50 persen.
Untuk mendukung
pertumbuhan industri teknologi tinggi padat modal yang menghasilkan high end
products, pemerintahan China juga sangat agresif mendorong berbagai kegiatan
penelitian dan pengembangan (R&D), sejalan dengan ambisinya menjadi The
Fastest Growing Innovation Centre of the World, dengan tahapan, strategi, dan
implementasi yang sangat jelas untuk sampai ke sana.
Hampir di setiap
ibu kota provinsi ada R&D centre-nya. Positioning strategy ini mengindikasikan
China mulai masuk babak kedua dalam pembangunan ekonominya.
Ketiga, negara
ini relatif memiliki infrastruktur yang sangat bagus untuk mengangkut komponen
dan barang dari luar dan juga di seluruh penjuru negeri. China, dengan 1,3
miliar penduduk, memiliki 88.775 kilometer jalan arteri dan 100.000 kilometer
jalan tol, atau rasio panjang jalan per sejuta penduduk 1.384 kilometer.
Sebagai
perbandingan, Indonesia dengan 220 juta penduduk baru memiliki jalan arteri
26.000 kilometer dan jalan tol 620 kilometer (121 kilometer per sejuta
penduduk). Itu pun sebagian besar dalam kondisi rusak. Pelabuhan-pelabuhan di
China sudah mampu melayani seperlima volume kontainer dunia dan negara ini
terus membangun jalan-jalan tol dan pelabuhan-pelabuhan baru.
Keempat,
kebijakan pemerintah yang sangat mendukung, termasuk perizinan investasi,
perpajakan, dan kepabeanan. Kelima, pembangunan zona-zona ekonomi khusus (20
zona) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sehingga perkembangan ekonomi bisa
lebih terfokus dan pembangunan infrastruktur juga lebih efisien.
Hasilnya, tahun
2004 China berhasil menarik investasi langsung asing 60,6 miliar dollar AS dan
500 perusahaan terbesar dunia hampir seluruhnya melakukan investasi di sana.
Bagaimana kompetitifnya China bisa dilihat di tabel. Di sini kelihatan China
sudah memperhitungkan segala aspek untuk bisa bersaing dan merebut abad ke-21
dalam genggamannya.
Hal serupa
terjadi pada India yang mengalami pertumbuhan pesat sejak program liberalisasi
dengan membongkar ”License raj" pada era Menteri Keuangan Manmohan Singh
tahun 1991. India kini sudah masuk tahap kedua strategi pembangunan ekonomi
dengan menggunakan teknologi informasi (IT) sebagai basis pembangunan
ekonominya.
Hampir seluruh
pemain bisnis IT dunia sudah membuka usahanya di India, terutama di Bangalore.
Tahun 2006, pendapatan dari IT India mencapai 36 miliar dollar AS. Malaysia,
Thailand, dan Filipina juga beranjak ke produk-produk yang memiliki tingkat
teknologi lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi. Singapura dan Korsel
mengarah ke teknologi informasi dan perancangan produk.
Pragmatisme
Bagaimana dengan
Indonesia? Prinsip globalisasi adalah adanya pembagian kerja untuk mencapai
efisiensi. Sinyalemen bahwa Indonesia dengan tenaga kerja melimpah dan upah
buruh murah hanya kebagian industri ”peluh” (sweatshop) seperti pakaian jadi
dan alas kaki dalam rantai kegiatan produksi global, terbukti sebagian besar
benar.
China, India,
dan Malaysia juga memulai dengan sweatshop, tetapi kemudian mampu meng-upgrade
industrinya dengan cepat. Hal ini yang tidak terjadi di Indonesia. Kebijakan
Indonesia menghadapi globalisasi sendiri selama ini lebih didasarkan pada sikap
pragmatisme.
Direktur
Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Hadi Soesastro (Globalization:
Challenge for Indonesia) mengatakan, kebijakan pemerintah menghadapi
globalisasi tidak didasarkan pada pertimbangan ideologis, tetapi lebih pada
penilaian obyektif apa yang bisa dicapai negara-negara Asia Timur lain.
Apalagi, saat
itu di antara negara-negara di kawasan Asia sendiri ada persaingan, berlomba
untuk meliberalisasikan perekonomiannya agar lebih menarik bagi investasi
global. Momentum ini didorong lagi oleh munculnya berbagai kesepakatan kerja
sama ekonomi regional seperti AFTA dan APEC.
Pemerintah
meyakini melalui liberalisasi pasar, industri dan perusahaan-perusahaan di
Indonesia akan bisa menjadi kompetitif secara internasional. Sejak pertengahan
tahun 1980-an, Indonesia sudah mulai meliberalisasikan dan menderegulasikan
rezim perdagangan dan investasinya.
Selama periode
1986-1990, tidak kurang dari 20 paket kebijakan liberalisasi perdagangan dan
investasi diluncurkan. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Timur yang
memulai program liberalisasi ekonomi dengan liberalisasi rezim devisa.
Namun, dalam
banyak kasus, paket kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mendorong sektor
swasta waktu itu cenderung reaktif dan tak koheren serta diskriminatif karena
sering kali tidak menyertakan kelompok atau sektor tertentu dari program
deregulasi. Jadi, tidak mendorong terjadinya persaingan yang sehat.
Pengusaha tumbuh
dan menggurita bukan karena ia efisien dan kompetitif, tetapi karena ia
berhasil menguasai aset dan sumber daya ekonomi, akibat adanya privelese atau
KKN dengan penguasa.
Kini Indonesia
terkesan semakin gamang menghadapi globalisasi, terutama di tengah tekanan
sentimen nasionalisme di dalam negeri. Di pihak pemerintah sendiri, karena
menganggap sudah sukses melaksanakan tahap pertama liberalisasi (first-order
adjustment) ekonomi, pemerintah cenderung menganggap sepele tantangan yang
menunggu di depan mata.
Ini tercermin
dari sikap taken for granted dan cenderung berpikir pendek. Padahal, tantangan
akan semakin berat dan kompleks sejalan dengan semakin dalamnya integrasi internasional.
Belum jelas bagaimana perekonomian dan bangsa ini menghadapi kompetisi lebih
besar yang tidak bisa lagi dibendung.
Jika China yang
the world’s factory dan India yang kini menjadi surga outsourcing IT dunia
berebut menjadi pusat inovasi dunia, manufacture hub, atau mimpi-mimpi lain,
Indonesia sampai saat ini belum berani mencanangkan menjadi apa pun atau
mengambil peran apa pun di masa depan. Jika Indonesia sendiri tak mampu
memberdayakan dan menolong dirinya serta membiarkan diri tergilas arus globalisasi,
selamanya bangsa ini hanya akan menjadi tukang jahit dan buruh.
Menurut seorang
panelis, yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning, repositioning
strategy, dan leadership. Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari
transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang
juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk
mencapai itu, tahun 2030 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit
kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan berdaya sebagai pemenang
dalam globalisasi.
BAB
III
Kenaikan
harga BBM tergantung emas hitam
Kepastian harga jual BBM pada 2010 akan berkorelasi dengan harga minyak mentah dunia. Jika masih sesuai dengan kemampuan maka harga tidak akan dinaikan.
Kepastian harga jual BBM pada 2010 akan berkorelasi dengan harga minyak mentah dunia. Jika masih sesuai dengan kemampuan maka harga tidak akan dinaikan.
Menurut
Dirjen Migas Departemen ESDM yang dimaksud dengan kemampuan yakni, target
rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang telah
ditetapkan. Jika di luar target kemungkinan harga BBM bisa dinaikkan.
“Target
rata-rata ICP setiap tahun kan ada, kalau itu memang di luar area target
rata-rata itu bisa (dinaikan). Tentunya pertimbangan kan tidak hanya kenaikan
BBM, tetapi banyak pertimbangan lain,” jelas Evita, di Gedung Departemen ESDM,
Jakarta, Jumat (7/8/2009).
Pertimbangan
lainnya yakni kemampuan anggaran, apakah disparitas harga minyak mentah,
rata-rata ICP, subsidi dan harga jual, masih dapat ditopang oleh APBN. “Kecuali
harga minyak melonjak seperti waktu lalu,” tambah Evita.
Jika harga
minyak masih di kisaran USD60-70 per barel, menurut Evita, anggaran masih mampu
menopang bebean masih dan perkiraan di tahun 2010 kemungkinan tidak dinaikkan.
- Kenaikan BBM tidak merata Kenaikan BBM tidak
merata di seluruh pelosok negri Indonesia.
Banyak event-event yang membuat harga BBM meningkat. Sebagai contoh saat menjelang idul fitri yang membuat sebagian besar masyarakat di jakarta mudik ke bilangan jawa tengah dan sekitarnya membuat pemudik merasa sangat membutuhkan BBM ini, disaat inilah oknum meningkatkan harga BBM demi meraup keuntungan yang lebih dari biasanya.
Begitu pula pasca gempa di Padang beberapa hari bulan yang lalu, harga BBM di padang meningkat drastis karena hanya beberapa pombensin saja yang bisa melayani para pelanggannya, mau tidak mau karena butuh pelanggan yang sudah mengantri ber jam jam pun mau membeli premium yang saat itu mencapai harga Rp 20000/liter-nya.
Hal ini lah yang membuktikan bahwa kenaikan harga BBM tidak merata jika dilihat dari event-event tertentu tersebut.
Banyak event-event yang membuat harga BBM meningkat. Sebagai contoh saat menjelang idul fitri yang membuat sebagian besar masyarakat di jakarta mudik ke bilangan jawa tengah dan sekitarnya membuat pemudik merasa sangat membutuhkan BBM ini, disaat inilah oknum meningkatkan harga BBM demi meraup keuntungan yang lebih dari biasanya.
Begitu pula pasca gempa di Padang beberapa hari bulan yang lalu, harga BBM di padang meningkat drastis karena hanya beberapa pombensin saja yang bisa melayani para pelanggannya, mau tidak mau karena butuh pelanggan yang sudah mengantri ber jam jam pun mau membeli premium yang saat itu mencapai harga Rp 20000/liter-nya.
Hal ini lah yang membuktikan bahwa kenaikan harga BBM tidak merata jika dilihat dari event-event tertentu tersebut.
- Kenaikan BBM setiap tahunnya.
Belum dapat dipastikan bahwa BBM
dapat mengalami kenaikan harga setiap tahunnya, karena kenaikan BBM terdiri
dari banyak faktor, dari dalam negri maupun luarnegri.
- Kemungkinan untuk turun
kembali
Kemungkinan pemerintah
meningkatkan harga BBM tentu saja ada,
Kemungkinan pemerintah menurunkan harga BBM tentu saja ada. Namun agar sukar untuk pemerintah menurunkan harga BBM seperti semula sebelum tahun 2005 lalu mengalami peningkatan harga BBM sebanyak 2x.
Kemungkinan pemerintah menurunkan harga BBM tentu saja ada. Namun agar sukar untuk pemerintah menurunkan harga BBM seperti semula sebelum tahun 2005 lalu mengalami peningkatan harga BBM sebanyak 2x.
- Akibat kenaikan BBM
• Harga bahan baku naik
• Harga sayur mayur naik
• Harga solar, premium, pertamax dll naik
• Harga elpiji naik
• Harga sayur mayur naik
• Harga solar, premium, pertamax dll naik
• Harga elpiji naik
Jikalau akibat diatas sudah
bermunculan tidak bisa dipungkiri lagi
Akan banyak gelandangan di jalan yang mengganggu pemandangan di ibukota jakarta ini.
Akan banyak gelandangan di jalan yang mengganggu pemandangan di ibukota jakarta ini.
- Penghapusan subsidi BBM
Apakah perlu adanya penghapusan
subsidi BBM? Alasan utamanya adalah karena BBM merupakan sumber daya alam yang
tidak dapat diperbaharui. BBM adalah hidrokarbon yang dibentuk dari proses yang
berlangsung dalam skala waktu geologis. Dalam skala kehidupan manusia, BBM
praktis merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Artinya,
suatu saat nanti akan habis dan sebelum habis harganya akan terus meningkat.
Jika BBM disubsidi dengan sistem harga retail tetap, maka besar subsidi sudah
pasti akan terus membesar. Fakta ini adalah kenyataan hukum alam.
Tapi Indonesia adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia?
Itu menurut buku PMP tahun 80-an. Cadangan minyak Indonesia hanya 5 milyar barrel. Itu hanyalah 0,484% dari seluruh cadangan minyak dunia. Atau hanya 0,614% dari cadangan minyak negara-negara anggota OPEC.
Tapi Indonesia adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia?
Itu menurut buku PMP tahun 80-an. Cadangan minyak Indonesia hanya 5 milyar barrel. Itu hanyalah 0,484% dari seluruh cadangan minyak dunia. Atau hanya 0,614% dari cadangan minyak negara-negara anggota OPEC.
- Faktor kenaikan BBM
Mengenai penyebab terjadinya kenaikan harga dan
kelangkaan BBM, dapat disimpulkan ada tiga faktor penyababnya yaitu:
- faktor teknis,
- faktor spekulatif,
- faktor politik ekonomi.
- faktor teknis,
- faktor spekulatif,
- faktor politik ekonomi.
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa Kenaikan
BBM bukan sepenuhnya salah dari pemeritahan kita ini. Kenaikan BBM juga di
himbau karena kenaikan minyak mentah dunia, itulah yang membuat pemerintah kita
menaikkan harga BBM. Adanya subsidi juga mempengaruhi harga BBM yang tidak
mendapatkan subsidi. Konversi dari minyak tanah ke elpiji juga merupakan faktor
mengapa BBM mengalami peningkatan harga.
DAFTAR PUSTAKA
http://beritamedan.wordpress.com/2008/05/27/dampak-kenaikan-harga-bbm-bagi-kaum-miskin/
http://economy.okezone.com/read/2009/08/07/320/245971/320/kenaikan-harga-bbm-tergantung-si-emas-hitam
http://ivan-sugi.blogspot.com/2008/05/ekonomi-dan-konsekuensi-akibat-kenaikan.html
http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/
http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/23/21550292/pemerintah.resmi.naikkan.harga.bbm
Jamal, Sudirman.2003.EKONOMI 1.Jakarta:Erlangga.
http://economy.okezone.com/read/2009/08/07/320/245971/320/kenaikan-harga-bbm-tergantung-si-emas-hitam
http://ivan-sugi.blogspot.com/2008/05/ekonomi-dan-konsekuensi-akibat-kenaikan.html
http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/
http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/23/21550292/pemerintah.resmi.naikkan.harga.bbm
Jamal, Sudirman.2003.EKONOMI 1.Jakarta:Erlangga.

