twitter
rss

HMJ EP UMPAR


Seminar sosiologi politik dan ekonomi (entrepreneur) yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan semester II kelas B dan bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2012. seminar ini bertemakan "Membentuk mahasiswa yang berjiwa sosial dan entrepreneur serta paham politik". adapun pemateri dari ketiga sub kegiatan tersebut diantaranya : Materi sosiologi dibawakan oleh Ibu Nilawati A. Ridha , kemudian materi Politik dibawakan oleh Bapak Rusdin Jalil dan materi Ekonomi  (entrepreneur) dibawakan oleh Bapak Budiamin, SH.

       Seminar sosiologi politik dan ekonomi (entrepreneur) yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan semester II kelas A dan bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 4 April 2012. seminar ini bertemakan "Peran mahasiswa dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat". adapu pemateri dari ketiga sub kegiatan tersebut diantaranya : Materi sosiologi dibawakan oleh Bapak Drs. Muslimin Syarif, M.Si , kemudian materi Politik dibawakan oleh Bapak Andi Firdaus Djollong, SE dan materi Ekonomi  (entrepreneur) dibawakan oleh Bapak Muh. Yusuf, SE. MM.




Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Fakultas Ekonomi UMPAR
I.       Visi, Misi, dan Tujuan :
a.      Visi :
Menghasilkan sarjana ekonomi yang memiliki ketajaman analisis, kritis, dan menguasai teori ekonomi murni yang islami, profesional dan mandiri.
b.      Misi :
1.      Menyelenggarakan pendidikan yang mampu    menghasilkan sarjana muslim berwawasan luas, kreatif, dan inovatif serta berkemampuan wirausaha.
2.      Mengembangkan penelitian dalam mendukung pengembangan iptek dibidang ekonomi.
3.      Meningkatkan kualitas pengabdian pada masyarakat dalam pengamalan ilmu dan teknologi kemaslahatan umat.
c.       Tujuan :
1.      Melaksanakan proses pendidikan yang berkualitas, produktif dan efisien ditunjang dengan sikap moral dan islami.
2.      Menghasilkan lulusan yang mampu bersaing ditingkat lokal maupun nasional yang berkemampuan tinggi dalam analisi bidang ekonomi baik mikro maupun makro.
3.      Menghasilkan sarjana yang mempunyai nilai tambah dan keterampilan dan kemampuan khusus sesuai bidang keahliannya.

II.    Kurikulum : Berbasis user yaitu mata kuliah disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

III.  Sasaran : Peningkatan kualitas lulusan, mutu dosen, mutu pendidikan serta pelayanan akademik mahasiswa.

IV. Lapangan kerja : lulusan program studi ilmu ekonomi dan studi pembangunan mampun mengisi lapangan kerja dibidang pemerintahan dan swasta serta lembaga-lembaga internasional yang terkait dengan perencanaan pembangunan ekonomi, bidang moneter, bidang moneter, dan perbankan, fiskal/perpajakan, industri dan perdagangan, pembangunan nasional dan regional, usaha kecil dan menengah, serta lembaga swadaya masyarakat.

V.    Fasilitas :
·         Ruang kuliah + LCD
·         Lab. Komputer & Lab. Bahasa Inggris
·         Mushalla
·         Parkiraan
·         Kantin, dsb.
VI.       Organisasi Mahasiswa : Mahasiswa yang sedang kuliah tidak hanya menekuni dunia pendidikan yang terus menerus. Tetapi perlu mengembangkan kemampuan personal melalui kegiatan ekstra, melalui wadah organisasi kemahasiswaan, dengan mengikuti organisasi tersebut, maka diharapkan mahasiswa mempunyai kemanpuan leadership yang semakin baik. Untuk itu program studi Jurusan Ilmu ekonomi dan studi pembangunan membebaskan mahasiswa untuk bergabung ke organisasi, salah satunya adalah organisasi HMJ IESP. Dimana dilembaga tersebut menjadi wadah untuk mendapatkan ilmu yang tidak dieksplor dalam perkuliahan.
VII.    Imepi goes to school : Imepi adalah singkatan dari Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia. Merupakan wadah berkumpulnya mahasiswa ekonomi pembangunan se-Indonesia. Jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan juga terlibat aktif dalam kegiatan nasional se-jurusan.

Motto hmj iesp :
Mari berilmu….
Mari berekonomi…
Dan mari membangun…


BAB I

Pendahuluan
a.Latar Belakang
Perubahan harga adalah proses peningkatan atau penurunan harga yang biasanya terjadi pada saat-saat tertentu secara bertahap maupun tidak.
Perubahan harga terjadi karena adanya peningkatan dari bahan baku suatu produk tersebut agar tetap mendapatkan suatu keuntungan dari hasil penjualan.
Perubahan harga tidak hanya menguntungkan para produsen, kadang perubahan harga berupa penurunan membuat pihak konsumen merasa untung.
Sering kali terjadi Perubahan-perubahan harga di pasar. Terutama pada saat-saat tertentu seperti Hari Raya ataupun Tahun baru. Kejadian seperti banyak sekali dimanfaatkan oleh konsumen akan untuk mendapatkan keuntungan, dan kadang banyak merugikan pula. Perubahan harga yang terjadi tiap tahun ini membuat para konsumen menjaga-jaga membeli, barang-barang yang kemungkinan akan melonjak, sebelum harganya berubah menjadi jauh lebih mahal.
Perubahan harga ini terdiri dari banyak faktor. Kualitas, kuantitas, selera konsumen, trend masa kini dan banyak lagi.
Jika kualitas barang sudah turun (jahitan lepas,warna pudar,robek) otomatis konsumen tidak akan membeli barang tersebut dengan harga normal. Jika jumlah barang (kuantitas) yang beredar dimasyarakat banyak, otomatis harga di pasar pasti akan bersaing paling murah agar konsumen mau membeli. Selera konsumen berbeda-beda, ada yang menyukai warna merah, kuning atau yang lainnya, ini membuat konsumen memilih warna atau selera mereka masing-masing, tidak peduli mahal atau murahnya.
Maka dari itu, penulis akan meneliti lebih jauh agar kita bisa melihat apa untung dan ruginya perubahan harga tersebut dari segi konsumen maupun produsen.
b. Rumusan Masalah
1. Mengapa BBM mengalami peningkatan harga?
2. Apakah kenaikan BBM merata di seluruh Indonesia?
3. Apakah kenaikan BBM dapat dipastikan tiap tahun?
4. Mungkinkah BBM mengalami penurunan harga kembali seperti semula?
5. Apa akibat dari kenaikan BBM?
6. Apakah subsidi BBM harus dihapuskan? Mengapa?
7. Faktor-faktor apa yang menyebabkan harga BBM meningkat?
c. Tujuan Penulisan
Penulis menulis makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas Metode Penulisan karya Ilmiah. Makalah ini bertujuan menjelaskan mengenai kenaikan BBM yang selalu dibicarakan pada masyarakat kita, Indonesia. Selain itu penyusunan ini juga untuk membuka jendela pengetahuan tentang permasalahan yang ada saat ini. Harapan penulis adalah agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, akan tetapi bermanfaat juga bagi meraka yang membutuhkan untuk referensi ataupun bahan bacaan semata

LITERATUR
- Faktor – faktor kenaikan harga :
• Naiknya harga minyak mentah dunia
• Naiknya nilai mata uang dollar
• Peradaban manusia yang semakin canggih dalam memproses minyak mentah
• Teknologi
- Akibat Naiknya BBM :
• Harga bahan baku meningkat
• Harga produk barang meningkat
• Masyarakat sukar memenuhi kebutuhan hidup
• Pengangguran meningkat
• Kemiskinan
BAB II
Globalisasi dan Indonesia 2030

A. Hasil Dan Pembahasan
Abad ke-21 adalah abad milik Asia. Pada tahun 2050 separuh lebih produk nasional bruto dunia bakal dikuasai Asia. China, menggusur Amerika Serikat, akan menjadi pemain terkuat dunia, diikuti India di posisi ketiga. Lalu, apa peran dan di mana posisi Indonesia waktu itu?
China dan India dengan segala ekspansinya, berdasarkan sejumlah parameter saat ini dan prediksi ke depan, sudah jelas adalah pemenang dalam medan pertarungan terbuka dunia di era globalisasi, di mana tidak ada lagi sekat-sekat bukan saja bagi pergerakan informasi, modal, barang, jasa, manusia, tetapi juga ideologi dan nasionalisme negara.
Globalisasi ekonomi dan globalisasi korporasi juga memunculkan barisan korporasi dan individu pemain global baru. Lima tahun lalu, 51 dari 100 kekuatan ekonomi terbesar sudah bukan lagi ada di tangan negara atau teritori, tetapi di tangan korporasi.
Pendapatan WalMart, jaringan perusahaan ritel AS, pada tahun 2001 sudah melampaui produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebagai negara. Penerimaan perusahaan minyak Royal Dutch Shell melampaui PDB Venezuela, salah satu anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berpengaruh.
Pendapatan perusahaan mobil nomor satu dunia dari AS, General Motor, kira-kira sama dengan kombinasi PDB tiga negara: Selandia Baru, Irlandia, dan Hongaria. Perusahaan transnasional (TNCs) terbesar dunia, General Electric, menguasai aset 647,483 miliar dollar AS atau hampir tiga kali lipat PDB Indonesia.
Begitu besar kekuatan uang dan pengaruh yang dimiliki korporasi-korporasi ini sehingga mampu mengendalikan pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan dan menentukan arah pergerakan perdagangan dan perekonomian global.
Pada awal dekade 1990-an terdapat 37.000 TNCs dengan sekitar 170.000 perusahaan afiliasi yang tersebar di seluruh dunia. Tahun 2004 jumlah TNCs meningkat menjadi sekitar 70.000 dengan total afiliasi 690.000. Sekitar 75 persen TNCs ini berbasis di Amerika Utara, Eropa Barat, serta Jepang, dan 99 dari 100 TNCs terbesar juga dari negara maju.
Namun, belakangan pemain kelas dunia dari negara berkembang, terutama Asia, mulai menyembul di sana-sini. Dalam daftar 100 TNCs nonfinansial terbesar dunia (dari sisi aset) versi World Investment Report 2005, ada nama seperti Hutchison Whampoa Limited (urutan 16) dari Hongkong, Singtel Ltd (66) dari Singapura, Petronas (72) dari Malaysia, dan Samsung (99) dari Korea Selatan.
Sementara dalam daftar 50 TNCs finansial terbesar dunia, ada tiga wakil dari China, yakni Industrial & Commercial Bank of China (urutan 23), Bank of China (34), dan China Construction Bank (39).
Lompatan besar
Menurut data United Nations Conference on Trade and Development, pada tahun 2004 China adalah eksportir terbesar ketiga di dunia untuk barang (merchandise goods) dan kesembilan terbesar untuk jasa komersial, dengan pangsa 9 dan 2,8 persen dari total ekspor dunia.
Volume ekspor China mencapai 325 miliar dollar AS tahun 2002 dan tahun lalu 764 miliar dollar AS. Manufaktur menyumbang 39 persen PDB China. Output manufaktur China tahun 2003 adalah ketiga terbesar setelah AS dan Jepang. Di sektor jasa, China yang terbesar kesembilan setelah AS, Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Kanada, dan Spanyol.
Sementara India peringkat ke-20 eksportir merchandise goods (1,1 persen) dan peringkat ke-22 untuk jasa komersial (1,5 persen). Produk nasional bruto (GNP) China tahun 2050 diperkirakan 175 persen dari GNP AS, sementara GNP India sudah akan menyamai AS dan menjadikannya perekonomian terbesar ketiga dunia, mengalahkan Uni Eropa dan Jepang.
Ketika China membuka diri pada dunia dua dekade lalu, orang hanya membayangkan potensi China sebagai pasar raksasa dengan lebih dari semiliar konsumen sehingga sangat menarik bagi perusahaan ritel dan manufaktur dunia. Belakangan, China bukan hanya menarik dan berkembang sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi berbagai produk manufaktur untuk memasok pasar global. China awal abad ke-21 ini seperti Inggris abad ke-19 lalu.
China tidak berhenti hanya sampai di sini. Jika pada awal 1990-an hanya dipandang sebagai lokasi menarik untuk basis produksi produk padat karya sederhana, dewasa ini China membuktikan juga kompetitif dalam berbagai industri berteknologi maju. Masuknya China dalam keanggotaan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin melapangkan jalan bagi negeri Tirai Bambu ini untuk menjadi kekuatan yang semakin sulit ditandingi di pasar global.
Di sektor padat karya, seperti tekstil dan pakaian jadi, diakhirinya rezim kuota di negara-negara maju membuat ekspor China membanjiri pasar dunia dan membuat banyak industri tekstil dan pakaian jadi di sejumlah negara berkembang pesaing harus tutup. Pangsa ekspor pakaian dari China diperkirakan akan melonjak dari sekitar 17 persen dari total ekspor dunia saat ini menjadi 45 persen pada paruh kedua dekade ini.
Hal serupa terjadi pada produk-produk berteknologi tinggi. Bagaimana China menginvasi dan membanjiri pasar global dengan produk-produknya, dengan menggusur negara-negara pesaing, bisa dilihat dari data WTO berikut.
Pangsa China di pasar elektronik AS meningkat dari 9,5 persen (tahun 1992) menjadi 21,8 persen (1999). Sementara pada saat yang sama, pangsa Singapura turun dari 21,8 persen menjadi 13,4 persen. Kontribusi China terhadap produksi personal computer dunia naik dari 4 persen (1996) menjadi 21 persen (2000), sementara kontribusi ASEAN secara keseluruhan pada kurun waktu yang sama menciut dari 17 persen menjadi 6 persen.
Pangsa China terhadap total produksi hard disk dunia juga naik dari 1 persen (1996) menjadi 6 persen (2000), sementara pangsa ASEAN turun dari 83 persen menjadi 77 persen. Pangsa China untuk produksi keyboard naik dari 18 persen (1996) menjadi 38 persen (2000), sementara pangsa ASEAN tergerus dari 57 persen menjadi 42 persen.
Semua gambaran itu jelas memperlihatkan China terus naik kelas, membuat lompatan besar dari waktu ke waktu, dan pada saat yang sama terus memperluas diversifikasi produk dan pasarnya. Gerakan sapu bersih China di berbagai macam industri—mulai dari yang berintensitas teknologi sangat sederhana hingga intensitas teknologi dan nilai tambah sangat tinggi—ini semakin mempertegas posisi China sebagai the world’s factory memasuki abad ke-21.
Sementara pada saat yang sama, negara-negara tetangganya justru mengalami hollowing out di industri manufaktur berteknologi tinggi dengan cepat. Di industri berintensitas teknologi rendah yang cenderung padat karya, China menekan negara-negara seperti Vietnam dan Indonesia yang basis industrinya masih sempit, yakni teknologi yang tidak terlalu complicated dan bernilai tambah rendah.
Sementara di industri yang berintensitas teknologi tinggi, China semakin menjadi ancaman tidak saja bagi negara seperti Taiwan dan Korsel, tetapi juga AS dan Jepang. China tidak hanya membanjiri dunia dengan garmen, sepatu, dan mainan, tetapi juga produk-produk komputer, kamera, televisi, dan sebagainya.
China memasok 50 persen lebih produksi kamera dunia, 30 persen penyejuk udara (air conditioners/AC), 30 persen televisi, 25 persen mesin cuci, 20 persen lemari pendingin, dan masih banyak lagi.
Inovasi
Bagaimana China bisa melakukan itu semua? Ada beberapa faktor. Pertama, perusahaan-perusahaan teknologi asing, menurut Deloitte Research, sekarang ini berebut masuk untuk investasi di China, antara lain agar bisa memanfaatkan akses ke pasar China yang sangat besar dan bertumbuh dengan cepat. Kedua, perusahaan-perusahaan lokal yang menarik modal dari investor China di luar negeri (terutama Taiwan) juga semakin terampil memproduksi barang-barang berteknologi tinggi.
Tidak statis di industri padat karya yang mengandalkan upah buruh murah, China kini mulai lebih selektif menggiring investasi ke industri yang menghasilkan high end products dan padat modal. Ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja murah yang mulai berkurang ketersediaannya.
Ketiga, perguruan-perguruan tinggi di China mampu mencetak barisan insinyur baru dalam jumlah besar setiap tahunnya, dengan upah yang tentu relatif murah dibandingkan jika menyewa insinyur asing. Setiap tahun, negara ini menghasilkan 2 juta-2,5 juta sarjana, dengan 60 persennya dari jurusan teknologi (insinyur). Sebagai perbandingan, di Indonesia lulusan jurusan teknologi hanya 18 persen, AS 25 persen, dan India 50 persen.
Untuk mendukung pertumbuhan industri teknologi tinggi padat modal yang menghasilkan high end products, pemerintahan China juga sangat agresif mendorong berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D), sejalan dengan ambisinya menjadi The Fastest Growing Innovation Centre of the World, dengan tahapan, strategi, dan implementasi yang sangat jelas untuk sampai ke sana.
Hampir di setiap ibu kota provinsi ada R&D centre-nya. Positioning strategy ini mengindikasikan China mulai masuk babak kedua dalam pembangunan ekonominya.
Ketiga, negara ini relatif memiliki infrastruktur yang sangat bagus untuk mengangkut komponen dan barang dari luar dan juga di seluruh penjuru negeri. China, dengan 1,3 miliar penduduk, memiliki 88.775 kilometer jalan arteri dan 100.000 kilometer jalan tol, atau rasio panjang jalan per sejuta penduduk 1.384 kilometer.
Sebagai perbandingan, Indonesia dengan 220 juta penduduk baru memiliki jalan arteri 26.000 kilometer dan jalan tol 620 kilometer (121 kilometer per sejuta penduduk). Itu pun sebagian besar dalam kondisi rusak. Pelabuhan-pelabuhan di China sudah mampu melayani seperlima volume kontainer dunia dan negara ini terus membangun jalan-jalan tol dan pelabuhan-pelabuhan baru.
Keempat, kebijakan pemerintah yang sangat mendukung, termasuk perizinan investasi, perpajakan, dan kepabeanan. Kelima, pembangunan zona-zona ekonomi khusus (20 zona) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sehingga perkembangan ekonomi bisa lebih terfokus dan pembangunan infrastruktur juga lebih efisien.
Hasilnya, tahun 2004 China berhasil menarik investasi langsung asing 60,6 miliar dollar AS dan 500 perusahaan terbesar dunia hampir seluruhnya melakukan investasi di sana. Bagaimana kompetitifnya China bisa dilihat di tabel. Di sini kelihatan China sudah memperhitungkan segala aspek untuk bisa bersaing dan merebut abad ke-21 dalam genggamannya.
Hal serupa terjadi pada India yang mengalami pertumbuhan pesat sejak program liberalisasi dengan membongkar ”License raj" pada era Menteri Keuangan Manmohan Singh tahun 1991. India kini sudah masuk tahap kedua strategi pembangunan ekonomi dengan menggunakan teknologi informasi (IT) sebagai basis pembangunan ekonominya.
Hampir seluruh pemain bisnis IT dunia sudah membuka usahanya di India, terutama di Bangalore. Tahun 2006, pendapatan dari IT India mencapai 36 miliar dollar AS. Malaysia, Thailand, dan Filipina juga beranjak ke produk-produk yang memiliki tingkat teknologi lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi. Singapura dan Korsel mengarah ke teknologi informasi dan perancangan produk.
Pragmatisme
Bagaimana dengan Indonesia? Prinsip globalisasi adalah adanya pembagian kerja untuk mencapai efisiensi. Sinyalemen bahwa Indonesia dengan tenaga kerja melimpah dan upah buruh murah hanya kebagian industri ”peluh” (sweatshop) seperti pakaian jadi dan alas kaki dalam rantai kegiatan produksi global, terbukti sebagian besar benar.
China, India, dan Malaysia juga memulai dengan sweatshop, tetapi kemudian mampu meng-upgrade industrinya dengan cepat. Hal ini yang tidak terjadi di Indonesia. Kebijakan Indonesia menghadapi globalisasi sendiri selama ini lebih didasarkan pada sikap pragmatisme.
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Hadi Soesastro (Globalization: Challenge for Indonesia) mengatakan, kebijakan pemerintah menghadapi globalisasi tidak didasarkan pada pertimbangan ideologis, tetapi lebih pada penilaian obyektif apa yang bisa dicapai negara-negara Asia Timur lain.
Apalagi, saat itu di antara negara-negara di kawasan Asia sendiri ada persaingan, berlomba untuk meliberalisasikan perekonomiannya agar lebih menarik bagi investasi global. Momentum ini didorong lagi oleh munculnya berbagai kesepakatan kerja sama ekonomi regional seperti AFTA dan APEC.
Pemerintah meyakini melalui liberalisasi pasar, industri dan perusahaan-perusahaan di Indonesia akan bisa menjadi kompetitif secara internasional. Sejak pertengahan tahun 1980-an, Indonesia sudah mulai meliberalisasikan dan menderegulasikan rezim perdagangan dan investasinya.
Selama periode 1986-1990, tidak kurang dari 20 paket kebijakan liberalisasi perdagangan dan investasi diluncurkan. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Timur yang memulai program liberalisasi ekonomi dengan liberalisasi rezim devisa.
Namun, dalam banyak kasus, paket kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk mendorong sektor swasta waktu itu cenderung reaktif dan tak koheren serta diskriminatif karena sering kali tidak menyertakan kelompok atau sektor tertentu dari program deregulasi. Jadi, tidak mendorong terjadinya persaingan yang sehat.
Pengusaha tumbuh dan menggurita bukan karena ia efisien dan kompetitif, tetapi karena ia berhasil menguasai aset dan sumber daya ekonomi, akibat adanya privelese atau KKN dengan penguasa.
Kini Indonesia terkesan semakin gamang menghadapi globalisasi, terutama di tengah tekanan sentimen nasionalisme di dalam negeri. Di pihak pemerintah sendiri, karena menganggap sudah sukses melaksanakan tahap pertama liberalisasi (first-order adjustment) ekonomi, pemerintah cenderung menganggap sepele tantangan yang menunggu di depan mata.
Ini tercermin dari sikap taken for granted dan cenderung berpikir pendek. Padahal, tantangan akan semakin berat dan kompleks sejalan dengan semakin dalamnya integrasi internasional. Belum jelas bagaimana perekonomian dan bangsa ini menghadapi kompetisi lebih besar yang tidak bisa lagi dibendung.
Jika China yang the world’s factory dan India yang kini menjadi surga outsourcing IT dunia berebut menjadi pusat inovasi dunia, manufacture hub, atau mimpi-mimpi lain, Indonesia sampai saat ini belum berani mencanangkan menjadi apa pun atau mengambil peran apa pun di masa depan. Jika Indonesia sendiri tak mampu memberdayakan dan menolong dirinya serta membiarkan diri tergilas arus globalisasi, selamanya bangsa ini hanya akan menjadi tukang jahit dan buruh.
Menurut seorang panelis, yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning, repositioning strategy, dan leadership. Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2030 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan berdaya sebagai pemenang dalam globalisasi.
BAB III

Kenaikan harga BBM tergantung emas hitam
Kepastian harga jual BBM pada 2010 akan berkorelasi dengan harga minyak mentah dunia. Jika masih sesuai dengan kemampuan maka harga tidak akan dinaikan.
Menurut Dirjen Migas Departemen ESDM yang dimaksud dengan kemampuan yakni, target rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang telah ditetapkan. Jika di luar target kemungkinan harga BBM bisa dinaikkan.
“Target rata-rata ICP setiap tahun kan ada, kalau itu memang di luar area target rata-rata itu bisa (dinaikan). Tentunya pertimbangan kan tidak hanya kenaikan BBM, tetapi banyak pertimbangan lain,” jelas Evita, di Gedung Departemen ESDM, Jakarta, Jumat (7/8/2009).
Pertimbangan lainnya yakni kemampuan anggaran, apakah disparitas harga minyak mentah, rata-rata ICP, subsidi dan harga jual, masih dapat ditopang oleh APBN. “Kecuali harga minyak melonjak seperti waktu lalu,” tambah Evita.
Jika harga minyak masih di kisaran USD60-70 per barel, menurut Evita, anggaran masih mampu menopang bebean masih dan perkiraan di tahun 2010 kemungkinan tidak dinaikkan.
- Kenaikan BBM tidak merata Kenaikan BBM tidak merata di seluruh pelosok negri Indonesia.
Banyak event-event yang membuat harga BBM meningkat. Sebagai contoh saat menjelang idul fitri yang membuat sebagian besar masyarakat di jakarta mudik ke bilangan jawa tengah dan sekitarnya membuat pemudik merasa sangat membutuhkan BBM ini, disaat inilah oknum meningkatkan harga BBM demi meraup keuntungan yang lebih dari biasanya.
Begitu pula pasca gempa di Padang beberapa hari bulan yang lalu, harga BBM di padang meningkat drastis karena hanya beberapa pombensin saja yang bisa melayani para pelanggannya, mau tidak mau karena butuh pelanggan yang sudah mengantri ber jam jam pun mau membeli premium yang saat itu mencapai harga Rp 20000/liter-nya.
Hal ini lah yang membuktikan bahwa kenaikan harga BBM tidak merata jika dilihat dari event-event tertentu tersebut.
- Kenaikan BBM setiap tahunnya.
Belum dapat dipastikan bahwa BBM dapat mengalami kenaikan harga setiap tahunnya, karena kenaikan BBM terdiri dari banyak faktor, dari dalam negri maupun luarnegri.
- Kemungkinan untuk turun kembali
Kemungkinan pemerintah meningkatkan harga BBM tentu saja ada,
Kemungkinan pemerintah menurunkan harga BBM tentu saja ada. Namun agar sukar untuk pemerintah menurunkan harga BBM seperti semula sebelum tahun 2005 lalu mengalami peningkatan harga BBM sebanyak 2x.
- Akibat kenaikan BBM
• Harga bahan baku naik
• Harga sayur mayur naik
• Harga solar, premium, pertamax dll naik
• Harga elpiji naik
Jikalau akibat diatas sudah bermunculan tidak bisa dipungkiri lagi
Akan banyak gelandangan di jalan yang mengganggu pemandangan di ibukota jakarta ini.
- Penghapusan subsidi BBM
Apakah perlu adanya penghapusan subsidi BBM? Alasan utamanya adalah karena BBM merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. BBM adalah hidrokarbon yang dibentuk dari proses yang berlangsung dalam skala waktu geologis. Dalam skala kehidupan manusia, BBM praktis merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Artinya, suatu saat nanti akan habis dan sebelum habis harganya akan terus meningkat. Jika BBM disubsidi dengan sistem harga retail tetap, maka besar subsidi sudah pasti akan terus membesar. Fakta ini adalah kenyataan hukum alam.
Tapi Indonesia adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia?
Itu menurut buku PMP tahun 80-an. Cadangan minyak Indonesia hanya 5 milyar barrel. Itu hanyalah 0,484% dari seluruh cadangan minyak dunia. Atau hanya 0,614% dari cadangan minyak negara-negara anggota OPEC.
- Faktor kenaikan BBM
Mengenai penyebab terjadinya kenaikan harga dan kelangkaan BBM, dapat disimpulkan ada tiga faktor penyababnya yaitu:
- faktor teknis,
- faktor spekulatif,
- faktor politik ekonomi.

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa Kenaikan BBM bukan sepenuhnya salah dari pemeritahan kita ini. Kenaikan BBM juga di himbau karena kenaikan minyak mentah dunia, itulah yang membuat pemerintah kita menaikkan harga BBM. Adanya subsidi juga mempengaruhi harga BBM yang tidak mendapatkan subsidi. Konversi dari minyak tanah ke elpiji juga merupakan faktor mengapa BBM mengalami peningkatan harga.







DAFTAR PUSTAKA
http://beritamedan.wordpress.com/2008/05/27/dampak-kenaikan-harga-bbm-bagi-kaum-miskin/
http://economy.okezone.com/read/2009/08/07/320/245971/320/kenaikan-harga-bbm-tergantung-si-emas-hitam
http://ivan-sugi.blogspot.com/2008/05/ekonomi-dan-konsekuensi-akibat-kenaikan.html
http://jurnal-ekonomi.org/2007/12/29/bbm-langka-dan-mahal-karena-negara-lepas-tanggung-jawab-lanjutan-1/
http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/
http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/23/21550292/pemerintah.resmi.naikkan.harga.bbm
Jamal, Sudirman.2003.EKONOMI 1.Jakarta:Erlangga.